Filed under: Tentang Hidup | Tag: Anti Munafik, Malu, Malu berbuat DOsa, Malu kepada Allah, Malu Kepada Manusia
Malu adalah bagian dari hidup Muslim
Malu yang akan saya bicarakan disini adalah malu dalam pengertian malu atas perbuatan yang ditakutkan melanggar larangan Allah.SWT. Sebab ada bagian malu yg lain yang seharusnya memang tidak diperkankan diterapkan. Misalnya malu untuk cari usaha yang halal.
Lho kok cari usaha halal malu?? Iya ..banyak diantara kita yang malu misalnya jadi tukang becak, malu jadi penyapu jalanan, malu jadi tukang sampah, dll yang padahal itu adalah usaha halal. mereka yang malu usaha halal ini malah lebih memilih untuk nganggur, dan mengandalkan orang lain untuk menopang hidupnya.
Mereka ini justru tidak malu pada orang yang selalu memberi nya makan, minum,,tempat tinggal.Meski sebenarnya mereka ini kuat dan mampu untuk berusaha sendiri, tapi mereka gengsi atau malu untuk mengerjakan usaha halal seperti contoh diatas.
Kembali kepada tema tulisan, yakni malu atas perbuatan yang melanggar larangan ALlah.
Kenapa saya menuliskan hal ini ?
Ya.. saya teringat pada sebuah hadist yang artinya kira2 begini : Tanda seorang itu Muslim adalah : Ia malu atas perbuatan dosa yang pernah dibuatnya,
Malu disini saya fikir bukan hanya malu kepada Allah, tapi juga malu kepada manusia lain, sehingga ketika sang Muslim yang pernah berbuat dosa ini ditanya temannya :
“Hei..apakah kamu pernah mengerjakan dosa A,, atau Dosa B ?”
Maka si Muslim, karena rasa malu nya, ia akan menjawab :
“ Ahhhh.. tidak… saya tidak pernah melakukan hal itu….”
Nah..jawaban si Muslim diatas ini yang saya maksud dia MALU ATAS DOSA YANG PERNAH DIBUATNYA.
Si Muslim berusaha untuk menutupi dosanya, bukan bermaksud munafik atau berbohong. Dia tahu kalau dia sedang berada pada posisi sbb :
1.JIka ia menjawab seadanya : “Ya saya pernah melakukan dosa itu.”
Maka akan berkurang batasan duniawi yang bisa menjaganya dari perbuatan dosa kedua.
2.Jika ia menjawab : “TIDAK..SAYA TDK PERNAH MELAKUKAN DOSA ITU.”
Maka konsekwensinya : Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan dosa lagi..minimal dihadapan orang2 lain yang mendengar bahwa ia tidak pernah melakukan dosa itu….
Jadi kekuatan atas ucapan yang didasarkan atas rasa MALU diatas ini, menurut saya lebih banyak MANFAATNYA ketimbang si Musllim berterus terang.
Apa yang terjadi sekarang ini ???
Saya miris… karena dengan semakin mudah nya akses informasi, baik lewat media cetak,TV ,Radio dan bahkan Internet ( Yg lewat Facebook mampu menembus sampai pelosok desa) dengan aneka macam orang yang beraneka ragam latar belakang, sehingga seakan batasan-batasan budaya MALU INI malah sulit untuk diterapkan.
Banyak yang bilang kalau orang yang bermaksud untuk menutupi dosanya sendiri dibilang : Munafik… Astaghfirullah.. semoga Allah memberikan hidayah pada orang yang mengatakan hal itu, agar tidak sembarang menuduh tanpa tahu maksud sebenarnya….
Banyak percakapan spontan yang entah di sengaja atau tidak, mengatakan seperti ini :
- Jangan Munafik kamu… terus terang aja…
- Wooii jangan ngatain orang…elo munafik..padahal elo demen ‘begituan’
- Gue mah kagak munafik , gue suka kok ama si A yang berpakaian sexy
- dll…dsb..dst………………..
Astaghfirullah al adziim.. semoga Allah melindungi saya..keluarga saya dan kerabat saya dari hal-hal yang dapat merusak Iman Islam sampai akhir hayat saya…
Catatan Untuk Topik Malu dalam Artikel ini
- Malu dalam topik ini adalah malu yang dapat menjaga seseorang dari perbuatan dosa yang berulang2.
- Seseorang yang berusaha menutupi aibnya sendiri karena rasa malu,maka ia bisa dikatakan masih menjadi seorang MUSLIM yang hakiki. karena ia menjaga martabatnya sebagai Muslim yang harus taat kepada Allah SWT.
- Seseorang yang karena hal2 diatas, lalu menutupi aibnya, tapi kemudian masih terus saja melakukan dosa berulang kali,maka hanya ALLAH yang tahu Tingkat Iman Islamnya…(Sy ndak berani memvonisnya..).
- Bahwa rasa malu ini seyogyanya bukan dijadikan alasan bagi seseorang untuk pijakan dalam menutupi dosanya..tanpa NIAT UNTUK BERTOBAT dan NIAT UNTUK MENJADI MUSLIM SEJATI
- Malu disini tidak seharusnya diterapkan ketika seseorang sudah berhadapan di pengadilan dunia , atas kesalahan yang diperbuatnya. Ketahuilah bahwa kesalahan atau dosa yang diperbuat atas orang lain, tdk akan diampuni ALLAH , sebelum orang yang kita zalimi memberikan maaf. Dan ketahuilah..sesungguhnya AZAB di hari akhir itu lebih pedih ratusan atau mungkin ribuan kali dibanding dengan hukuman di dunia…
Dan akhirnya …dalam ending tulisan MALU ini, saya memohon ampunan dan rahmat ALLAH SWT, atas tulisan saya ini. Bahwa semua ini hanyalah tulisan yang kemungkinan banyak salahnya . Yang patut untuk direnungkan dan diperdebatkan…
Wassalam
Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar