Pekerja Macam Apa Anda ?
10 gaya bekerja yang sering tampak dan dilakukan oleh para pekerja. Anda bisa mencari jenis pekerja seperti apakah yang sesuai gaya bekerja Anda dalam Passion Archetypes. Berikut adalah tipe-tipe cara pekerja melakukan pekerjaannya:
The Builder:Ini merupakan tipe yang terbuka dengan segala macam kesempatan untuk mengembangkan bisnis baru atau fungsi baru untuk membuka sebuah lahan baru. Tipe Pembangun mencintai sebuah teritori yang belum dimiliki orang lain. Bekerja amat baik untuk mencapai sebuah tujuan yang ditetapkan. Mereka membutuhkan kebebasan untuk menciptakan “jejak” mereka demi mencapai gol tersebut. Tipe “The Bulider” atau Pembangun adalah tipe yang tak kenal lelah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam bisnis, dan umumnya adalah pemimpin sejati.
The Transformer: Tipe Pengubah adalah orang yang senang dengan perubahan. Mereka bisa maju melawan segala kekacauan dan perubahan. Tipe ini sangat mudah beradaptasi dan akan baik menghadapi perubahan dan kemungkinan perubahan ke arah yang lebih baik. Mereka biasanya tak akan menunggu agar terjadi perubahan, tetapi akan mencari kesempatan untuk melakukan perubahan. Mereka cenderung bosan menghadapi keadaan yang sama dari waktu ke waktu.
The Processor: Senang meneliti dan mengamati sesuatu adalah tipe pribadi ini. Mereka senang mengkaji informasi dan data untuk melihat apa yang akan dihasilkan. Mereka mengantisipasi apa perubahan/koreksi yang dibutuhkan untuk menindaklanjuti informasi yang mereka dapatkan. Mereka senang menjadi orang di belakang layar yang menyelamatkan perusahaan atau diri mereka dari kesalahan yang amat berat.
The Altruist: Tipe ini adalah tipe orang-orang yang memiliki gairah besar untuk memberi. Ia akan sangat baik jika ditempatkan sebagai kompas moral perusahaan. Altruis akan menantang perusahaan untuk bisa memberikan sesuatu yang baik kepada masyarakat.
The Healer: Mereka adalah orang-orang yang dicari ketika ada masalah. Mereka adalah tempat bersandar ketika ada yang tak berjalan dengan benar. Mereka biasanya adalah tipe yang pertama kali menyadari jika ada yang tak berjalan dengan benar dengan perusahaan, dan akan maju untuk memberikan suatu solusi.
The Connector: Dengan sebuah gairah untuk berkomunikasi, bernegosiasi, dan membangun jembatan di antara manusia, tipe ini adalah seorang insinyur hubungan. Mereka sering mencari kesamaan dari dua pihak yang bertikai agar bisa menyatukan visi dan jalan.
The Creator: Seperti seorang ahli, tipe ini akan menggunakan sebuah konsep dan menerjemahkannya ke dalam bentuk yang bisa diapresiasi orang lain. Kreator memfokuskan diri kepada suatu bentuk yang estetik, dan mencari sebuah keindahan dan fungsionalitas dalam apa pun yang bisa mereka manifestasikan dalam pekerjaan.
The Teacher: Mereka adalah individu-individu yang senang mengajak orang-orang untuk belajar dan pencari pengetahuan. Tipe seperti ini bisa diandalkan untuk membantu orang lain berkembang, untuk menerjemahkan informasi yang mudah dimengerti orang lain. Mereka juga senang membagi pengetahuan mereka kepada orang lain.
The Discoverer: Tipe ini adalah orang yang senang mengeksplorasi ragam hal. Mereka suka mendesain eksperimen atau pendekatan yang bisa membuka tabir kebenaran. Mereka bisa dibilang adalah inovator yang senang menyelesaikan teka-teki menantang.
The Conceiver: Tipe ini merupakan tipe yang berakrobat dengan intelektual. Mereka secara konsisten mendorong diri hingga batas. Biasanya mereka adalah orang yang datang dengan ide-ide luar biasa untuk menciptakan sebuah gagasan, produk, pelayanan, proses, atau strategi. Karena mereka seringkali berada di luar batas pola yang biasa, mereka seringkali mampu mendobrak hal-hal yang lama.
Kebanyakan dari kita akan menghabiskan waktu sekitar 84.000 jam dari hidup kita untuk bekerja. Di jaman seperti sekarang, organisasi seakan meminta para pegawainya untuk bisa memberikan lebih kepada perusahaan. Jadi, mengapa tidak menggunakan waktu kita untuk membangun karier yang Anda sukai? Melamar pekerjaan yang sesuai dengan gairah dan kemampuan adalah formula utama yang bisa memberikan perbedaan terhadap “hanya bekerja” atau “menciptakan sebuah gaya hidup”.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized | Tag: Lagu michael Jackson, Lagu Religi michael Jackson, Michael Jackson
Meninggalnya Micheal Jackson membawa

- Image via Wikipedia
berita luar biasa. Teriring kepergiannya,terdengar kabar kalau beliau telah masuk Islam.
Dan angin pun menghembus,bahwa beliau membuat sebuah la
- Image via Wikipedia
gu religi tentang kebesaran Allah.
Buat anda yang ingin mendengarkan lagu Micheal Jackson tentang Allah, silahkan download di lagu Micheal Jackson religius
atau disini : Mp3 Lagu Tentang Allah Michael Jackson
semoga bermanfaat
Diarsipkan di bawah: Hablumminannas
Meskipun mungkin agak telat, tapi artikel ini akan menambah wawasan pengetahuan ke Islaman kita.Tadi saat blogwalking saya menemukan artikel di blognya mas Abu Bakar sangat menarik untuk dibaca, yang membuat saya duduk manis membaca setiap kata hingga habis seluruhnya, karena argumen dan susunan kalimat yang dihadirkan si penulis. Jelas terlihat kejujuran dan objektifitas penulisnya dalam menilai kasus yang ia bicarakan. Artikel ini mengenai tanggapan seorang Yahudi Ateis bernama Uri Avnery terhadap statemen Paus Benedictus XVI yang mengutip tulisan Kaisar Manuel II beberapa waktu lalu, yang kutipan tersebut mendeskriditkan nabi Muhammad SAW sehingga membangkitkan protes massa di dunia Muslim. Saat itu sri Paus mengatakan:
Tunjukkan kepadaku ajaran baru yang Muhammad bawa, dan pasti kamu tidak akan mendapatkan apa pun kecuali hal-hal yang jahat dan anti-kemanusiaan, seperti perintahnya untuk menyebarkan apa yang dia sampaikan melalui pedang.”
Artikel aslinya dalam bahasa Ingris silahkan baca disini jika anda lebih suka membacanya dalam bahasa Ingris maka silahkan klik link itu, namun ada pula terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan di posting ini adalah terjemahannya, sebelumnya saya peringatkan artikel ini sangat menarik untuk dibaca (setidaknya dalam bahasa Ingris) tapi cukup panjang, jadi jika anda ingin membacanya pastikan anda tidak sedang sibuk, baiklah ini dia:
The Pope’s Evil Legend : Mohammed’s Sword
Mengapa Paus Benediktus XVI mengutip kata-kata tersebut di depan umum? Dan mengapa sekarang?
Sejak masa ketika para kaisar Romawi menjadikan orang-orang Kristen mangsa singa-singa, hubungan para kaisar itu dengan pemimpin-pemimpin Gereja terus mengalami pasang-surut.
Konstantin yang Agung, yang bertakhta pada 306—pastinya 1700 tahun yang lalu—mendukung Kristen sebagai agama yang dipraktikkan di imperium tersebut, yang termasuk di dalamnya wilayah Palestina. Berabad-abad kemudian, Gereja pun terbelah menjadi Timur (Ortodoks) dan Barat (Katolik). Di Barat, Uskup Roma, yang mendapat gelar Paus, menuntut sang kaisar untuk menerima superioritasnya.
Konflik antara para kaisar dan para paus memainkan peranan sentral dalam sejarah Eropa serta menciptakan polarisasi masyarakat. Konflik tersebut pun mengalami pasang dan surutnya. Beberapa kaisar menolak otoritas atau mengucilkan seorang paus sementara beberapa paus juga menolak otoritas atau mengutuk seorang kaisar. Salah seorang kaisar, Henry IV, sampai harus “berjalan ke Canossa” (sebuah desa di pegunungan Apennine, bagian utara Italia—penerj.) dan berdiri di atas salju dengan bertelanjang kaki selama tiga hari di depan Kastil sang Paus (yang dimaksud adalah Paus Gregory VII—penerj.) hingga Paus memutuskan untuk membatalkan kutukannya.
Namun, juga terdapat periode ketika para kaisar dan paus bergandengan tangan dalam keharmonisan. Dan hari ini, kita menyaksikan sebuah periode seperti itu. Antara Paus Benediktus XVI dan sang Kaisar George Bush II, terjadi keharmonisan yang menakjubkan. Kuliah sang Paus beberapa waktu yang lalu, yang memicu kontroversi di seluruh dunia, tampaknya seiring jalan dengan “perang salib” ala Bush melawan “Islamofasisme”, dalam konteks “clash of civilizations”.
Dalam kuliahnya pada sebuah universitas di Jerman, Paus yang ke-265 ini memaparkan apa yang ia lihat sebagai sebuah “perbedaan besar” antara Kristen dan Islam: Kristen didasarkan atas akal sedangkan Islam menolak akal; Kristen memahami logika dari tindakan-tindakan Tuhan sementara Islam mengingkari bahwa terdapat sejenis logika di dalam tindakan-tindakan Allah.
Sebagai seorang Yahudi ateis, saya tidak bermaksud untuk memasuki perdebatan ini. Adalah di luar kemampuan saya untuk memahami apa yang dimaksud dengan logika oleh Paus. Namun, saya tidak dapat melewatkan satu bagian yang menjadi perhatian saya sebagai seorang Israel yang hidup dekat dengan inkonsistensi “perang peradaban” ini.
Untuk membuktikan bahwa Islam tidak menghargai akal, Paus menyatakan bahwa Nabi Muhammad memerintahkan para pengikutnya untuk menyebarkan agama mereka melalui jalan pedang. Menurut Paus, hal tersebut tidaklah rasional karena iman lahir dari dalam jiwa, bukan dari tubuh. Bagaimana pedang dapat mempengaruhi jiwa?
Untuk mendukung pendapatnya ini, Paus mengutip—dari banyak kutipan yang mungkin—seorang kaisar Byzantium, yang tentu saja merupakan rival Gereja Timur (Ortodoks). Pada akhir abad ke-14, sang kaisar tersebut, Manuel II Palaeologus bercerita tentang sebuah perdebatan—peristiwa ini diragukan pernah terjadi—antara dirinya dengan seorang ulama Muslim asal Persia yang namanya tidak disebutkan. Di tengah panasnya perdebatan tersebut, sang kaisar (berdasarkan ceritanya sendiri) mengucapkan kata-kata berikut kepada lawan debatnya tersebut.
Tunjukkan kepadaku ajaran baru yang Muhammad bawa, dan pasti kamu tidak akan mendapatkan apa pun kecuali hal-hal yang jahat dan anti-kemanusiaan, seperti perintahnya untuk menyebarkan apa yang dia sampaikan melalui pedang.”
Perkataan di atas memunculkan tiga pertanyaan: [a] kenapa sang kaisar berkata seperti itu; apakah perkataan itu benar adanya; dan [c] mengapa Paus mengutip perkataan itu.
Ketika menuliskan risalah di atas, Manuel II adalah kaisar dari sebuah imperium yang sedang sekarat. Dia bertakhta pada 1391, ketika hanya segelintir propinsi yang tersisa dari imperium sebelumnya. Propinsi-propinsi yang masih tersisa ini pun pada masanya berada di bawah ancaman Turki.
Pada masa itu, kekuasaan Turki Utsmani telah mencapai tepi Sungai Danube. Mereka telah menaklukkan Bulgaria dan bagian utara Yunani, dan telah dua kali mengalahkan pasukan bantuan yang dikirim Eropa untuk menyelamatkan Imperium Timur. Pada 29 Mei 1453, hanya beberapa tahun setelah Manuel mangkat, ibukota imperiumnya, Konstantinopel (kini Istanbul), jatuh ke tangan orang-orang Turki. Inilah akhir dari sebuah imperium yang telah berkuasa selama lebih daripada ribuan tahun.
Selama berkuasa, Manuel banyak mengunjungi ibukota-ibukota Eropa dalam upayanya untuk memobilisasi dukungan. Dia berjanji untuk mempersatukan kembali gereja. Tidak diragukan lagi bahwa Manuel menuliskan risalah keagamaannya itu dalam upaya untuk memprovokasi negara-negara Kristen agar melawan Turki dan meyakinkan mereka untuk memulai kembali sebuah perang salib yang baru. Tujuannya amatlah pragmatis dan teologi datang untuk melayani kepentingan politik.
Dalam hal ini, tampaknya kutipan (yang dikutip Paus) tersebut benar-benar melayani kepentingan sang Kaisar modern kini, George Bush II. Bukankah Bush juga hendak mempersatukan kembali dunia Kristen untuk melawan “Poros Setan” Muslim. Lebih jauh, bukankah Turki lagi-lagi mengetuk pintu Eropa meski kali ini secara damai. Sudah umum diketahui bahwa Paus Benedik XVI mendukung kekuatan-kekuatan yang berkeberatan dengan masuknya Turki ke dalam Uni Eropa.
Lalu, apakah ada kebenaran dalam argumen Manuel?
Paus sendiri menyampaikan sebuah kata yang patut diperhatikan. Sebagai seorang teolog yang serius dan ternama, dia semestinya tidak berupaya untuk memfalsifikasi teks-teks tertulis. Karenanya, dia mengakui bahwa al-Quran secara khusus melarang penyebaran keyakinan dengan kekuatan. Dia mengutip Surah kedua (al-Baqarah—penerj.) yang berkata: Tidak ada paksaan dalam persoalan keyakinan.
Bagaimana mungkin seseorang dapat mengabaikan sebuah pernyataan yang sangat eksplisit tersebut? Paus dengan mudahnya berpendapat bahwa perintah dalam ayat tersebut diabaikan sang Nabi pada permulaan karirnya, yakni ketika masih lemah, tetapi kemudian sang Nabi memerintahkan penggunaan pedang untuk menyebarkan keyakinan tersebut (Islam). Namun demikian, sebuah perintah seperti itu tidaklah pernah ada di dalam al-Quran. Memang Muhammad menyerukan penggunaan kekuatan dalam perang melawan suku-suku Arab yang membangkang—Kristen, Yahudi, dan suku-suku lainnya—ketika tengah membangun negaranya. Namun, hal itu adalah tindakan politik dan bukan tindakan religius; yang pada dasarnya hanyalah sebuah perjuangan untuk mempertahankan wilayah, bukan untuk menyebarkan keyakinan.
Yesus berkata, “Dari buahnyalah (perbuatan) kamu akan mengenal mereka.” (Matius 7:15—penerj.) Perlakuan Islam terhadap agama-agama lain haruslah ditimbang melalui sebuah tes yang sederhana: bagaimanakah penguasa-penguasa Muslim berperilaku selama lebih daripada seribu tahun ketika mereka memiliki kuasa untuk “menyebarkan keyakinan dengan jalan pedang”.
Jelasnya, mereka tidak melakukan hal itu (menyebarkan Islam dengan kekuatan—penerj.).
Selama beberapa abad, Muslim menguasai Yunani. Apakah orang-orang Yunani menjadi Muslim? Apakah seseorang ketika itu berusaha mengislamkan mereka? Sebaliknya, bukankah banyak orang Yunani Kristen, pada saat itu, menjabat posisi-posisi tinggi di pemerintahan Utsmani. Bangsa Bulgaria, Serbia, Rumania, Hungaria, dan bangsa Eropa lainnya hidup di bawah pemerintahan Utsmani pada satu dan lain waktu dengan tetap memeluk iman Kristen mereka. Tak ada seorang pun yang memaksa mereka untuk menjadi Muslim dan mereka semua tetaplah para penganut Kristen yang taat.
Memang benar bangsa Albania memeluk Islam dan demikian juga bangsa Bosnia. Namun, tak seorang pun menyatakan bahwa mereka melakukan ini di bawah tekanan. Mereka mengadopsi Islam agar disukai pemerintahan saat itu dan kemudian memperoleh keuntungannya.
Pada 1099, Pasukan Salib menaklukkan Yerusalem dan membantai warganya yang Muslim dan Yahudi atas nama kasih Yesus. Pada saat itu, selama 400 tahun di bawah pendudukan Muslim, Kristen di Palestina tetaplah mayoritas. Sepanjang periode tersebut, tidak pernah ada upaya untuk memaksakan Islam terhadap mereka. Terkecuali setelah pengusiran Pasukan Salib dari Palestina, maka mayoritas penduduk wilayah itu mulai mengadopsi bahasa Arab dan keyakinan Muslim—dan merekalah leluhur sebagian besar bangsa Palestina sekarang.
Demikian pula, tidak ada bukti yang menunjukkan adanya upaya untuk memaksakan Islam terhadap Yahudi. Sebagaimana banyak diketahui, di bawah pemerintahan Muslim, Yahudi Spanyol menikmati suasana kondusif yang tidak pernah mereka nikmati di tempat mana pun hingga masa kita. Para penyair Yahudi seperti Yehuda Halevy menulis dalam bahasa Arab, dan demikian juga Maimonides yang agung. Pada pemerintahan Muslim di Spanyol, Yahudi adalah para menteri, penyair, dan saintis. Di Toledo, para sarjana Kristen, Yahudi, dan Muslim bekerja sama dalam menerjemahkan teks-teks filsafat dan sains Yunani kuno. Inilah yang disebut “Zaman Keemasan”. Bagaimana mungkin hal ini terjadi sekiranya Nabi memerintahkan “penyebaran keyakinan dengan pedang”?
Apa yang terjadi setelah itu jauh lebih jelas. Ketika merebut kembali Spanyol dari tangan Muslim, Katolik menciptakan rezim teror keagamaan. Yahudi dan Muslim dihadapkan pada sebuah pilihan yang kejam: menjadi Kristen, dibantai, atau pergi. Dan ke manakah ratusan ribu Yahudi, yang menolak untuk menanggalkan iman mereka, berlindung? Sebagian besar dari mereka disambut dengan tangan terbuka di negeri-negeri Muslim. Yahudi Sephardi (Spanyol) hidup di seluruh dunia Muslim, dari Maroko di Barat hingga Irak di Timur, dari Bulgaria (yang kemudian menjadi bagian dari Khilafah Utsmani) di utara hingga Sudan di selatan. Itulah tempat-tempat di mana mereka tidak dibantai. Mereka (yang hidup di negeri-negeri Muslim) sama sekali tidak mengenal siksaan-siksaan model Inkuisisi, auto-da-fe, pembantaian massal, dan pengusiran-massal, yang terjadi di hampir seluruh negeri Kristen, hingga terjadinya peristiwa Holocaust.
Mengapa? Karena Islam secara jelas melarang setiap penindasan atas “ahlul kitab”. Dalam masyarakat Islam, sebuah tempat khusus akan disiapkan bagi Yahudi dan Kristen. Mereka menikmati hak-hak yang hampir sama dengan penduduk Muslim. Mereka harus membayar pajak khusus (jizyah—penerj.) tetapi dikecualikan dari wajib militer—suatu perjanjian yang disambut hangat warga Yahudi. Dikabarkan bahwa para penguasa Muslim enggan mengajak Yahudi untuk menjadi Muslim bahkan dengan bujukan yang paling lembut sekalipun karena hal itu akan berbuntut pada hilangnya pemasukan negara dari pajak.
Setiap Yahudi jujur yang mengetahui sejarah bangsanya pasti akan merasakan apresiasi yang dalam kepada Islam, yang telah melindungi Yahudi selama lima puluh generasi sedangkan dunia Kristen justru membantai Yahudi dan berusaha berkali-kali memaksa mereka menanggalkan iman mereka dengan “jalan pedang”.
Kisah tentang “penyebaran iman dengan pedang” adalah sebuah legenda jahat, salah satu mitos yang tumbuh di Eropa selama perang-perang besar melawan Muslim—penaklukan Spanyol oleh Kristen, Perang-perang Salib, dan pengusiran orang-orang Turki, yang hampir menguasai Wina. Saya mencurigai bahwa sang Paus dari Jerman ini pun begitu jujur sehingga percaya kepada omong kosong ini. Ini berarti bahwa pemimpin dunia Katolik, yang merupakan seorang teolog Kristen, tampaknya tidak berupaya untuk mengkaji sejarah agama-agama lain.
Mengapa dia melontarkan kata-kata tersebut di depan umum? Dan mengapa sekarang?
Tampaknya kita tidak memiliki pilihan lain kecuali memandangnya dari sudut pandang “Perang Salib Baru” ala Bush dan para pendukung evangelisnya, dengan slogan-slogan “Islamofasisme” dan “perang global melawan teror”—ketika “terorisme” telah menjadi sebuah sinonim bagi Muslim. Bagi para pendukung Bush, inilah upaya sinis guna menjustifikasi dominasi atas sumber-sumber minyak dunia. Bukan untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah jubah agama dibentangkan untuk menutupi ketelanjangan kepentingan-kepentingan ekonomi dan bukan untuk pertama kalinya, sebuah ekspedisi para pencoleng menjadi sebuah Perang Salib.
Pidato Paus merupakan bagian dari upaya ini. Lalu, siapakah yang dapat meramalkan akibat-akibatnya yang menyedihkan? (Di copy dan paste dari: Blog Fauzansa).
Uri Avnery adalah seorang penulis dan aktivis Israel. Dia merupakan pemimpin gerakan perdamaian Israel, “Gush Shalom”. http://zope.gush-shalom.org/home/en
Silahkan sebar artikel ini ke teman yg lain…
Dukun Paling Sakti
Mohon maaf jika judul nya agak provokatif. Saya memposting ini karena merasa miris terhadap saudara-saudara saya yang masih saja percaya pada dukun , atau pada ramalan bintang , atau pada ramalan nasib yang makin marak di iklankan di TV.
Padahal , untuk percaya pada ramalan saja , maka menurut hadist, amalan kita selama 40 hari akan terhapus. Bagaimana jika kita percaya ke dukun ?? Ini malah kita akan dianggap Musyrik…Naudzubillahimindzalik.
Soal dukun sakti , sebenarnya tidak usah kita mencari jauh-jauh sampai ke pelosok gunung , sampai bertapa berhari-hari. Saya punya refrensi , dimana bisa menemukan “Dukun Sakti” yang bisa membuat anda SUKSES . Dimana ? Siapa ? Berapa biayanya ?
Mau tau ??
Dukun itu bernama ? IBU
Dimana ?
Tanyakan kediri anda dimana ibu yang mengandung dan melahirkan anda.
Berapa biayanya ?
Biayanya gratis sepanjang hayat, sepanjang hidup , ibu akan menaungi hidup anda dengan sepenuh kasih sepenuh cinta.
Bagaimana caranya ?
Selalu minta Ridho dari Ibu , sebab Ridhallah fi Ridhal walidain , Ridha Allah berawal dari Ridho orangtua.
Selalu minta maaf, meski kita tidak punya salah, apalagi jika punya salah.Untuk hal ini bahkan saya dengar ada seseorang yang rela meminum air bekas cucian kaki ibu nya demi mendapatkan maaf ibunya.
Selalu minta didoakan oleh ibu, sebab doa ibu paling mustajab semustajab sumpahnya. Pernah dengar cerita seorang ulama di jaman sahabat nabi ? Yang beliau difitnah orang dan ditimpuki batu sampai berdarah ,hanya gara2 tidak menyahut saat dia dipanggil oleh ibunya.Padahal saat itu dia sedang Sholat sunnah. Si Ibu yang tidak tau anaknya sedang sholat sunnah, jengkel dan tak sadar keluar sumpahnya. Sumpah si Ibu langsung terijabah.Maka terjadilah kejadian seperti yang saya sebutkan tadi. Nah sedang shollat sunnah saja bisa diijabah sumpah Ibu, bagaimana jika sedang melakukan hal lain ???
Jadi , jika anda ingin berhasil dalam hidup ini, mulailah dari sekarang untuk selalu berusaha mendapatkan restu dan ridho dari Ibu kandung anda. Selalu memohon maaf dan selalu memohon doa nya. Sungguh , demi Allah tidak ada “dukun sakti” yang lebih sakti dari IBu kandung kita sendiri.
Semoga bermanfaat
![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=7dab8a3f-948d-4231-b283-5b309419f055)